Oleh: Dadang Syaripudin
A. Pendahuluan
Perbincangan dan penggunaan hisab di Muhammadiyah su-dah sejak lama berlangsung, bahkan dapat dikatakan sama tua-nya dengan usia Muhammadiyah itu sendiri. Sejarah mencatat, bahwa tindakan kongkret yang pertama kali dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan – sebelum mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912 – adalah yang berkaitan dengan kemampuannya da-lam menguasai hisab (Ilmu Falaq), yaitu mengoreksi arah kiblat Masjid Keraton Yogyakarta.[1] Kepandaiannya itu diwarisi oleh putranya K.H. Siraj Dahlan yang kemudian dikembangkan di Muhammadiyah oleh K.H. Wardan Diponingrat.
Namun demikian, secara formal Muhammadiyah baru menga-kui hisab sebagai salah satu cara dalam penetapan waktu beriba-dah, khususnya awal bulan Ramadhan dan Syawal, pada Mukta-mar Tarjih tahun 1932 di Makasar. Dalam Muktamar Tarjih tersebut ditetapkan bahwa untuk menentukan awal bulan Qamariyah dapat ditempuh melalui empat metode: 1)ru’yaú al-hilâl; 2) kesaksian orang yang adil; 3) menggenapkan (istikmâl) bilangan sya‘ban 30 hari; dan 4) hisab.[2]
B. Rukyat dan Hisab
Ru’yaú al-hilâl dipergunakan oleh Muhammadiyah, manakala posisi hilal berdasarkan perhitungan sudah berada pada keting-gian yang memungkinkan untuk diobservasi. Jika posisi hilal su-dah berada pada ketinggian tersebut, Muhammadiyah menetap-kan awal bulan Qamariyah (akan memulai ibadah puasa Rama-dhan) berdasarkan rukyat.
Persaksian pada hakikatnya sama dengan cara yang pertama yaitu terlihatnya hilal, perbedaannya terletak pada langsung atau tidaknya bulan Ramadhan (baru) itu dapat diketahui. Sedangkan cara yang ketiga dapat dikatakan sebagai pengganti cara pertama, sehingga dari segi ini dapat dikatakan sama dengan yang pertama (rukyat) namun dari segi substansinya adalah hisab sekalipun masih sangat sederhana, dengan menggenapkan (istikmâl) umur bulan yang sedang berlangsung selama 30 hari.
Kemudian jika posisi hilal tidak mungkin dirukyat karena berdasarkan hasil perhitungan posisinya masih berada di bawah ufuk, Muhammadiyah menggunakan istikmâl sebagai jalan keluar ketika menghadapi kesulitan dalam penetapan hukum. Akan tetapi, jika hilal itu tidak mungkin dirukyat karena tertutup awan atau posisinya masih berada pada ketinggian yang belum me-mungkinkan dapat dilihat, maka jalan yang ditempuh adalah hisab. Dengan demikian, penetapan awal bulan Qamariyah me-nurut Muhammadiyah, pada dasarnya dapat dilakukan melalui dua cara, yakni dengan melihat hilal (ru’yaú al-hilâl) dan hisab yang masing-masing dapat berdiri sendiri.
Secara astronomis, hilal (crescent) itu adalah penampakan bulan yang paling kecil (tampak seperti garis lengkung) meng-hadap ke bumi yang terjadi beberapa saat setelah ijtimâ‘.[3]Ru’yaú al-hilâl artinya melihat hilal pada saat terbenam matahari pada tanggal 29 bulan Qamariyah.[4] Adapun yang dimaksud dengan hisab di sini, adalah perhitungan mengenai posisi hilal, apakah sudah berada di atas ufuk (wujud) atau masih dibawah ufuk (be-lum wujud). Hilal dapat dinyatakan sudah wujud jika matahari telah terbenam lebih dahulu daripada bulan.
Mungkinkah hasil hisab berbeda dengan hasil rukyat? Ke-mungkinannya dapat terjadi dalam dua kasus. Pertama, menurut hisab hilal belum wujud; ketika matahari terbenam bulan berada di bawah ufuk atau hilal sudah wujud tetapi menurut hisab belum berada pada ketinggian yang dapat dilihat, namun ada yang mengaku telah melihat hilal. Dalam hal ini, secara konsep-tual sesuai dengan hasil keputusan Muktamar Tarjih tahun 1932, yang harus dijadikan pegangan adalah hasil rukyat.[5] Kedua, menurut hisab hilal sudah wujud dan bahkan sudah berada pada posisi atau ketinggian yang memungkinkan untuk dapat dilihat, tetapi tidak ada orang berhasil melihatnya. Dalam hal ini bagi Muhammadiyah awal bulan ditetapkan berdasarkan hisab.
Dalam prakteknya, penggunaan hisab dalam penetapan awal bulan Qamariyah di Muhammadiyah lebih dominan, bahkan be-lakangan cenderung memposisikan hilal lebih kuat daripada ruk-yat. Hal ini terbukti dengan adanya penolakan Muhammadiyah atas hasil rukyat yang terjadi pada akhir Ramadhan 1412 H dan 1413 H. saat menetapkan tanggal 1 Syawwal 1412 H (April 1992 M) dan 1 Syawwal 1413 H. (Maret 1993).[6] Hasil hisab Muhammadiyah menunjukkan bahwa pada saat terbenam matahari pada hari Jumat tanggal 29 Ramadhan 1412 H. (3 April 1992 M.) dan saat terbenam matahari, hari Selasa tanggal 29 Ramadhan 1413 H./ 23 Maret 1993 M. posisi bulan negatif di bawah ufuk walaupun ijtimâ‘ terjadi beberapa jam sebelum matahari terbenam.[7] Untuk itu, keputusan tarjih di atas sudah dikoreksi (mansûó) oleh keputusan Musyawarah Nasional Majelis Tarjih (d/h Muktamar Tarjih) tahun 2000 di Jakarta yang me-nyatakan bahwa “laporan rukyat pada posisi hilal masih di bawah ufuk harus ditolak”.
C. Perkembangan Kriteria Hisab
Dalam kaitannya dengan pertanda yang menunjukkan awal/ akhir bulan. Apa dan bagaimana kriterianya? Secara umum, hisab hanya menghitung posisi bulan terhadap matahari dan matahari serta bulan terhadap bumi pada tempat-tempat tertentu. Sedang-kan untuk menentukan awal bulan (tanggal 1 bulan Qamariyah) dikenal beberapa kriteria. Paling tidak, ada tiga kriteria yang sudah dikenal Muhammadiyah sekurang-kurangnya sejak tahun 1957,[8] sebagaimana disebutkan oleh K.H. Wardan Diponingrat:[9]
Pertama, kriteria ijtimâ‘ qabla al-gurûb: kriteria ini memperhi-tungkan kapan terjadinya ijtimâ‘(conjunction).[10] Jika ijtimâ‘ ter-jadi sebelum matahari terbenam, maka malam hari dan keesokan harinya dapat ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan baru. Akan tetapi jika ijtimâ‘terjadi setelah matahari terbenam, maka senja itu dan keesokan harinya ditetapkan sebagai hari ter-akhir dari bulan yang sedang berlangsung.[11]
Kedua, kriteria imkân al-ru’yaú, kriteria ini memperhitungkan keting-gian hilal pada saat terbenam matahari setelah terjadinya ijtimâ‘.[12] Jika hilal menurut hisab sudah mencapai pada ke-tinggian yang memungkinkan dapat dilihat, maka malam itu dan keesokan harinya dapat ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan baru. Akan tetapi jika belum mencapai pada ketinggian yang memungkinkan dapat dilihat, maka senja itu dan ke-esokan harinya ditetapkan sebagai hari terakhir dari bulan yang sedang berlangsung. Namun dalam penentuan kriteria imkân al-ru’yaú ini belum ada kesepakatan,[13] sehingga bagai-manapun juga akan senantiasa terjadi keragaman dan ketidak-pastian, baik antara ahli hisab dengan rukyat maupun dengan sesama ahli hisab.
Ketiga, kriteria wujûd al-hilâl, kriteria ini menganggap hilal sudah wujud bila matahari terbenam (sun set) lebih dahulu dari-pada bulan terbenam (moon set) pada akhir bulan Qamariyah tanpa ada batasan minimal ketinggian hilal.[14] Jika hilal sudah wujud sekalipun sejarak 1 menit atau kurang, maka senja dan keesokan harinya sudah dimulai bulan baru.[15] Akan tetapi bila bulan terbenam lebih dahulu daripada matahari, berarti hilal belum wujud (negatif berada di bawah ufuk) maka senja itu dan keesokan harinya ditetapkan sebagai hari terakhir dari bulan yang sedang berlangsung.
D. Kriteria Wujûd al-Hilâl
Kriteria wujûd al-hilâl – sebagai kriteria terakhir yang dipilih oleh Muhammadiyah sejak Ramadhan 1388 H/1968M – meng-alami perkembangan. Jika semula yang dimaksud dengan wujûd al-hilâl itu adalah matahari terbenam lebih dahulu daripada bu-lan, yang berarti ukuran yang dijadikan pembatas terbenam itu adalah ufuk mar’i, maka sekarang muncul pengertian bahwa wujûd al-hilâl itu apabila pada saat matahari terbenam itu bulan (hilal) berada pada posisi di atas ufuk hakiki. Dengan kata lain, kriteria yang dipilih oleh Muhammadiyah adalah kriteria wujûd al-hilâl, yakni dengan memperhitungkan terjadinyaijtimâ‘ plus posisi bulan positif di atas ufuk hakiki pada saat matahari ter-benam.[16] Hal ini dipertegas oleh Djarnawi Hadikusumo dengan pernyataannya: “... lebih tepat dan praktis pedoman yang diguna-kan untuk menetapkan tanggal 1 ialah wujûd al-hilâl, dan yang lebih obyektif pula. Bagaimanapun, kelihatan atau tidak, apabila hilal sudah wujud pasti saat itu sudah masuk tanggal satu bulan baru”.[17]
Namun demikian, bukan berarti kriteria wujûd al-hilâl dengan patokan ufuk hakiki sudah tidak memiliki persoalan. Jika yang dimaksud wujûd al-hilâl adalah matahari terbenam lebih dahulu daripada bulan setelah terjadinya ijtimâ‘, bukankah seharusnya “ufuk mar’i”-lah yang harus dijadikan patokan, karena paralaks bulan pada posisi bulan dengan ufuk relatif besar? Bisa terjadi berdasarkan patokan ufuk hakiki bulan/hilal sudah positif di atas ufuk (wujud), padahal bulan lebih dahulu terbenam dari mata-hari[18] karena fenomena terbenam acuannya adalah ufuk mar’i.
Untuk itu, kriteria wujûd al-hilâl dengan patokan hilal positif di atas ufuk hakiki haruslah memenuhi dua syarat: 1) ijtimâ‘ terjadi sebelum matahari terbenam; dan 2) posisi bulan pada saat matahari terbenam sudah berada di atas ufuk mar’i. Syarat per-tama ditetapkan karena menjelang terjadinya ijtimâ‘ matahari sudah terlebih dahulu terbenam daripada bulan. Kondisi sema-cam ini, yang nampak bukan hilal melainkan bulan akan mati. Syarat kedua menunjukkan bahwa bulan benar-benar terbenam setelah matahari terbenam lebih dahulu.
- E. Metode dan Aplikasinya[19]
Cara kerja hisab, secara umum sebagaimana disebutkan di atas, hanyalah melakukan perhitungan posisi bulan terhadap ma-tahari dan matahari serta bulan terhadap bumi pada tempat-tempat tertentu. Apa saja yang harus dihitung? Bagaimana cara menghitungnya? Sangat tergantung pada model hisab yang digunakan. Model/kriteria wujûd al-hilâl akan berbeda dengan kriteria ijtimâ‘ qabl al-gurûb, bahkan model dan kriteria sama pun belum tentu hasil perhitungannya sama karena mungkin saja sumber data dan/atau rumus yang digunakan berbeda.
Dalam kriteria wujûd al-hilâl Muhammadiyah yang harus diketahui adalah: 1) saat terbenam matahari (meliputi jam, menit, dan detik); 2) saat terjadinya ijtimâ‘ matahari dan bulan (meliputi jam, menit, dan detik); dan 3) posisi bulan (hilal) pada ufuk hakiki pada saat terbenam matahari[20]. Jika hasil perhi-tungan menunjukkan posisi bulan positif di atas ufuk hakiki, maka berarti matahari lebih dahulu terbenam daripada bulan. Kondisi semacam inilah dikatakan hilal sudah wujud menurut Muhammadiyah. Sebaliknya, jika hasil perhitungan menunjuk-kan posisi bulan negatif di bawah ufuk, maka berarti bulan lebih dahulu terbenam daripada matahari. Kondisi semacam ini dikata-kan hilal belum wujud.
Sumber data dan metode perhitungan dilakukan dalam tiga tahapan. Mula-mula menggunakan data sekaligus metode perhi-tungan yang terdapat dalam buku: Hisab Urfi dan Hakiki karya Muòammad Wardan. Kemudian beralih ke sumber data dan metode perhitungan yang terdapat dalam buku Hisab Hakiki Lembaga Falak dan Hisab Muhammadiyah Yogyakarta. Terakhir menggunakan data yang terdapat dalam Ephemeris Hisab dan Rukyat dengan metode perhitungan yang sesuai dengan jenis data yang disediakan.
Data yang disajikan dalam ketiga sumber di atas, pada dasar-nya adalah data tentang gerak matahari dan bulan berikut koreksi-koreksinya. Dalam buku, Hisab Urfi dan Hakikidata yang disajikan mengacu pada kalender Hijriyah, sehingga satuan waktu yang digunakan mengacu pada kalender Qamariyah dengan waktu setempat daerah Yogyakarta yang koordinat geo-grafisnya adalah f = -07° 48’ dan l = 110° 21’ BT. Data matahari dan bulan itu disajikan dalam bentuk tabel-tabel dengan epoch akhir tahun 1350 H. Dan akhir tahun 1380 H. Data gerak matahari dan bulan disajikan dalam setiap tahun, bulan, hari, jam dan menit. Koreksi (ta‘dîl) baik untuk menda-patkan data posisi matahari maupun bulan pada suatu saat ter-tentu disajikan dalam bentuk tabel-tabel sekaligus dengan argu-men-argumen dan formula-formulanya[21].
Dalam buku: “Hisab Hakiki” Lembaga Falak dan Hisab Muhammadiyah Yogyakarta, data-data disajikan dengan menga-cu pada kalender Miladiyah, sehingga satuan waktu yang berlaku dalam kalender Syamsiyah dengan acuan waktu Jawa l = 112° 30’ BT. Data matahari dan bulan disajikan dalam bentuk tabel-tabel dengan epoch tahun 1960 Januari 0 hari 0 dan jam 00 waktu Jawa. Data gerak matahari dan bulan disajikan dalam setiap tahun, bulan, hari, jam dan menit. Koreksi untuk mengeta-hui posisi matahari dan bulan pada suatu saat tertentu disajikan pula dalam bentuk tabel sekaligus dengan argumen dan rumus-rumusnya. Jika dibandingkan dengan data yang termuat dalam buku Hisab ‘Urfi dan Hakiki, data yang disajikan dalam buku ini lebih lengkap terutama data koreksi untuk gerak bulan.
Dalam Ephemeris Hisab dan Rukyat, data yang tersedia ber-beda dengan data pada dua buku terdahulu, datanya sudah siap pakai dan lebih mudah mengguna-kannya. Data-data mengenai matahari dan bulan dalam setiap tanggal dan jam menurut kalender Miladiyah (Syamsiyah).
Kriteria hisab wujûd al-hilâl Muhammadiyah, sebagaimana model-model hisab pada umumnya perhitungan waktu terbenam matahari, ijtimâ‘ dan tinggi bulan dilakukan untuk tanggal 29 dari bulan yang sedang berlangsung. Misalnya, jika menghitung waktu terbenam matahari, ijtimâ‘ dan tinggi bulan pada tanggal 1 Ramadhan 1423 H., maka perhitungan dilakukan untuk tang-gal 29 Sya`ban 1423 H. Karena itu jika yang digunakan sumber data menurut kalender Miladiyah, terlebih dahulu dilakukan konversi tanggal tersebut dengan kalender Miladiyah.
Untuk menentukan saat terjadinya ijtimâ‘ terlebih dahulu dicari longitude rata-rata matahari dan bulan pada suatu waktu tertentu, kemudian dilakukan koreksi-koreksi sehingga mengha-silkan longitude sebenarnya (takwîn òaqîqî) matahari dan bulan. Melalui proses ini, dapat diketahui pula kecepatan gerak mata-hari dan bulan setiap jam. Jika ditemukan selisih antara longitude matahari dan bulan, berarti ijtimâ‘ tidak terjadi pada waktu itu, melainkan sebelum atau sesudahnya. Jika longitude bulan lebih besar daripada matahari, maka ijtimâ‘ terjadi sebe-lumnya dan jika longitude matahari lebih besar daripada bulan, maka ijtimâ‘ terjadi sesudahnya. Untuk itu, dengan mengguna-kan rumus persamaan dapat diketahui waktu ijtimâ‘, yakni selisih longitude matahari dan bulan dibagi selisih kecepatan matahari dan bulan perjam, lalu ditambahkan/dikurangkan terha-dap suatu waktu yang sudah ditentukan, misalnya waktu terbe-nam matahari.
Dengan memperhatikan metode yang digunakan dalam me-nentukan saat terjadinyaijtimâ‘, maka sudah dapat dipastikan bahwa ijtimâ‘ matahari dan bulan menurut Muhammadiyah adalah apabila longitude atau bujur langit matahari dan bulan sama besarnya.[22] Hal ini perlu ditegaskan karena ada juga yang menetapkan bahwa ijtimâ‘matahari dan bulan itu jika Ascensio Reckta kedua benda langit tersebut sama besarnya,[23] bukan bujur langit. Sedangkan untuk menghitung ketinggian bulan dipergu-nakan rumus segitiga bola, dan yang diperhitungkan adalah benar-benar ketinggian bulan bukan busur edar bulan (mukus).
F. Rukyat dan Hisab dalam Quran dan Sunnah
Hisab dalam Muhammadiyah mengalami perkembangan me-nuju kesempurnaannya sejalan dengan adanya temuan-temuan baru sains modern dan penggunaannya pun dalam penetapan awal bulan-bulan Qamariyah semakin menguat dan dominan. Hasil hisab mungkin berbeda dengan hasil rukyat, yang sebe-narnya tak lain hanyalah pengakuan orang melihat/tidak melihat hilal, tetapi mesti sesuai dengan fakta alam yang terjadi, karena hisab (ilmu falak/astronomi) dirumuskan berdasarkan hasil peng-amatan (observasi) semenjak ratusan tahun yang lalu yang, ting-kat kesalahannya menurut astronom sangat kecil, kurang dari 1 (satu) menit.
Karena itu, bagi Muhammadiyah, hisab dan rukyat memiliki kedudukan yang sama, masing-masing berdiri sendiri bisa dijadi-kan dasar penetapan awal bulan Qamariyah, termasuk di dalam-nya waktu-waktu ibadah. Khusus yang berkenaan dengan ibadah puasa, bahwa yang menjadi sebab adanya keharusan puasa dan berbuka, bukan “terlihatnya hilal”, tetapi kepastian adanya hilal berada di atas ufuk (wujûd al-hilâl), sekalipun tidak dapat dilihat (rukyat).[24]
Namun persoalannya di sini, bukan hanya sekedar akurat, tepat dan sesuai dengan fakta, melainkan lebih dari itu menyang-kut sah atau tidaknya suatu peribadatan yang standarnya adalah hukum syari‘ah. Apakah model hisab dengan kriteria di atas me-miliki dasar hukum dan argumen-argumen syar‘i sebagaimana rukyat. Bukankah hanya rukyat satu-satunya yang dijadikan dasar penetapan oleh Rasulullah saw?
Sebenarnya, apa yang dijadikan rujukan hisab, secara umum dapat dikatakan sama dengan yang dijadikan rujukan rukyat. Perbedaannya yang pokok terletak pada pemahaman dan penaf-siran dasar hukum tersebut. Hisab secara tersurat disebutkan da-lam Quran tetapi tidak dalam Sunnah, sebaliknya rukyat secara tersurat disebut dalam Sunnah tetapi tidak dalam Quran.
Ayat Quran yang menyebutkan hisab dalam kaitannya dengan keberadaan posisi bulan dan matahari adalah:
uqèd Ï%©!$# @yèy_ [ôJ¤±9$# [ä!$uÅÊ tyJs)ø9$#ur #YqçR ¼çnu£s%ur tAÎ$oYtB (#qßJn=÷ètFÏ9 yytã tûüÏZÅb¡9$# z>$|¡Åsø9$#ur 4 $tB t,n=y{ ª!$# Ï9ºs wÎ) Èd,ysø9$$Î/ 4 ã@Å_Áxÿã ÏM»tFy$# 5Qöqs)Ï9 tbqßJn=ôèt ÇÎÈ[25]
$uZù=yèy_ur @ø©9$# u$pk¨]9$#ur Èû÷ütGt#uä ( !$tRöqysyJsù spt#uä È@ø©9$# !$uZù=yèy_ur spt#uä Í$pk¨]9$# ZouÅÇö7ãB (#qäótGö;tGÏj9 WxôÒsù `ÏiB óOä3În/§ (#qßJn=÷ètGÏ9ur yytã tûüÏZÅb¡9$# z>$|¡Ïtø:$#ur 4 ¨@à2ur &äóÓx« çm»oYù=¢Ásù WxÅÁøÿs? ÇÊËÈ[26]
Kemungkinan posisi bulan dan matahari dapat dihitung, mengingat ketiga benda tersebut, sebagai disebut dalam Quran beredar dalam orbitnya masing-masing secara konstans dan kon-sisten.
ß§ôJ¤±9$# ãyJs)ø9$#ur 5b$t7ó¡çt¿2 ÇÎÈ[27]
tRqè=t«ó¡o Ç`tã Ï'©#ÏdF{$# ( ö@è% }Ïd àMÏ%ºuqtB Ĩ$¨Y=Ï9 Ædkysø9$#ur 3[28]
tyJs)ø9$#ur çm»tRö£s% tAÎ$oYtB 4Ó®Lym y$tã Èbqã_óãèø9$%x. ÉOÏs)ø9$# ÇÌÒÈ w ß§ôJ¤±9$# ÓÈöt7.^t !$olm; br& x8Íôè? tyJs)ø9$# wur ã@ø©9$# ß,Î/$y Í$pk¨]9$# 4 @@ä.ur Îû ;7n=sù cqßst7ó¡o ÇÍÉÈ[29]
¨bÎ) no£Ïã Íqåk¶9$# yZÏã «!$# $oYøO$# u|³tã #\öky Îû É=»tFÅ2 «!$# tPöqt t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# ßöF{$#ur !$pk÷]ÏB îpyèt/ör& ×Pããm 4 Ï9ºs ßûïÏe$!$# ãNÍhs)ø9$# 4 [30]
Sementara rukyat didasarkan pada hasil penafsiran dari ayat Quran, seperti dalam surat al-Baqarah berikut ini:
`yJsù yÍky ãNä3YÏB tök¤¶9$# çmôJÝÁuù=sù ( `tBur tb$2 $³ÒÍsD ÷rr& 4n?tã 9xÿy ×o£Ïèsù ô`ÏiB BQ$r& tyzé&[31]
Kata “šahida” dalam ayat ini ditafsirkan oleh sejumlah ulama, sebagai rukyat dan “al-šahra”sebagai hilal, sehingga šuhûd al-šuhur dipahaminya sebagai "ru’yaú al-hilâl” dan hisab tidak bisa dikategorikan ke dalam pengertian šuhûd al-šuhur.[32] Padahal kelanjutan ayat itu, berbicara tentang orang yang sakit atau orang yang sedang bepergian, sehingga jika ayat itu dipahami se-cara utuh, “faman šahida minkum al-šahr” lebih tepat ditafsirkan sebagai “orang yang berada di tempat (tidak bepergian) dalam keadaan sehat”.
Sebaliknya, dalam Sunnah, bukan “hisab” yang disebutkan secara eksplisit tetapi rukyat seperti yang terdapat dalam hadis dari ‘Abdullâh ibn ‘Umar dan ‘Abdullâh ibn ‘Abbâs yang diri-wayatkan Mâlik ibn Anas (93-179) dalam kitab-nya Muwaùùa’.[33]
عن عبد الله بن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر رمضان فقال لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فاقدروا له، وعنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الشهر تسعة وعشرون فلا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فاقدروا له. عن عبد الله بن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكر رمضان فقال لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فأكملوا العدد العدة ثلاثين
Hadis yang sama baik sanad maupun matannya ataupun yang sedikit berbeda sanad dan matannya namun memiliki kesamaan makna dan substansinya banyak diriwayatkan (taórîj) oleh banyak ulama hadis dalam kitabnya masing-masing. ‘Abd al-Razâq (126-211 H) dalamMuèannaf-nya meriwayatkan: [34]
عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال في هلال رمضان إذا رأيتموه فصوموا ثم إذا رأيتموه فأفطروا فإن غم عليكم فأتموا ثلاثين صومكم يوم تصومون وفطركم يوم تفطرون وزاد ابن جريج في هذا الحديث وأضحاكم يوم تضحون، وعنه: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا رأيتم الهلال فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا فإن غم عليكم فصوموا ثلاثين. عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله جعل الأهلة مواقيت للناس فصوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فعدوا له ثلاثين يوما، وعنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لهلال شهر رمضان إذا رأيتموه فصوموا ثم إذا رأيتموه فأفطروا فإن غم عليكم فاقدروا له ثلاثين يوما
Ibn al-Ja‘d al-Bagdâdî (134-230 H) dalam Musnad-nya[35] meriwayatkan dari Abu Hurayrah dengan redaksi yang sedikit berbeda
عن أبي هريرة يقول قال أبو القاسم صلى الله عليه وسلم صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم الشهر فعدوا ثلاثين
Muòammad ibn Idrîs al-Šâfi‘î (150-204 H) dalam Musnad-nya[36] meriwayatkan hadis tersebut dari Abu Hurayrah
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ثم لا تقدموا الشهر بيوم ولا يومين إلا أن يوافق ذلك صوما كان يصومه أحدكم صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فعدوا ثلاثين
Abu Dâwud al-Ùayâlisî (204 H) dalam Musnad-nya:
عن أبي بكرة قال قال النبي صلى الله عليه وسلم صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين يوما.[37] عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فأقدروا له.[38] عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فان غم عليكم فعدو ثلاثين.[39]
Abû Bakr ibn Abî Šaybah (159-235 H) dengan sanad Ibn ‘Abbâs
عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تصوموا قبل رمضان صوموا لرؤيته وافطروا لرؤيته فان حالت دونه غياية فكملوا ثلاثين[40]
Aòmad ibn Òanbal (164-267) dengan sanad Ibn ‘Abbâs dan Abu Hurayrah
عن ابن عباس يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن حال بينكم وبينه سحاب فكملوا العدة ثلاثين ولا تستقبلوا الشهر استقبالا قال حاتم يعنى عدة شعبان[41]، وفي رواية عنه: صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن حال دونه غيابه فأكملوا العدة والشهر تسع وعشرون يعنى انه ناقص[42]
عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم الشهر فأكملوا العدة ثلاثين[43]، وفي رواية عنه: فان غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين[44]، وفي رواية عنه: لا تقدموا الشهر بيوم ولا يومين الا أن يوافق أحدكم صوما كان يصومه صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فان غم عليكم فأتموا ثلاثين يوما ثم أفطروا[45] وفي رواية عنه: فان غم عليكم فعدوا ثلاثين[46]، وفي رواية عنه: لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروا الهلال وقال صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فان غمى عليكم فعدوا ثلاثين[47]، وفي رواية عنه: لا تقدموا الشهر يعني رمضان بيوم ولا بيومين الا أن يوافق ذلك صوما كان يصومه أحدكم صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فعدوا ثلاثين ثم افطروا[48]
Al-Harîå ibn ‘Uåamah (186-282 H) dalam Musnad-nya:
عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن أغمي عليكم فعدوا ثلاثين[49]
Al-Buóârî (194-256 H) dalam al-Jâmi‘ al-Èaòîò-nya men-taórîj hadis dari Abu Hurayrah, berikut ini:[50]
عن أبي هريرة رضي الله عنه يقول قال النبي صلى الله عليه وسلم أو قال قال أبو القاسم صلى الله عليه وسلم صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين
Muslim (206-261 H) dalam kitab Èaòîò -nya men-taórîj pula hadis Abi Hurayrah di atas berikut ini:[51]
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم إذا رأيتم الهلال فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا فإن غم عليكم فصوموا ثلاثين يوما، وعنه: صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غمي عليكم فأكملوا العدد، وعنه: صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غمي عليكم الشهر فعدوا ثلاثين، وعنه: الهلال فقال إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا فإن أغمي عليكم فعدوا ثلاثين
Masih banyak lagi ulama hadis pasca al-Buóârî dan Muslim yang men-taórîj hadis-hadis di atas. Dan yang mashur diguna-kan dasar hukum rukyat adalah hadis periwayatan dari Abu Hurayrah tersebut.
Perintah untuk menghitung (fa‘iddû, faqdurû) atau mengge-napkan (istikmâl) hitungan hari dalam satu bulan menjadi tiga puluh, sebagai disebutkan dalam hadis tersebut dapat dikatakan hisab dalam bentuknya yang masih sangat sederhana.
Berdasarkan hadis-hadis di atas, juga didukung oleh penafsir-an šuhûd al-šuhursebelumnya, Jumhur ulama menetapkan bah-wa sekalipun awal bulan itu dapat diketahui melalui proses perhi-tungan dan bantuan peralatan teknologi, namun untuk menentu-kan waktu-waktu peribadatan (puasa dan haji) hanya boleh dengan cara rukyat saja. Òarf lamdalam matn hadis “èûmû li ru’yatih" adalah “li al-ta‘lîl” sehingga dipahami menjadi berpuasalah kalian “karena” melihat hilal. Keterlihatan hilal menjadi ‘illat (sabab al-hukmi) adanya berpuasa dan berbuka (‘îd al-fiùri), sebagai yang ditegaskan oleh al-Mubarakfuri[52]
قوله صوموا لرؤيته أي لأجل رؤية الهلال فاللام للتعليل والضمير للهلال على حد تورات بالحجاب اكتفاء بقرينة السياق
Memang diakui, yang pernah dipakai dasar penetapan awal bulan oleh Rasulullah hanyalah rukyat atau istikmâl, bukan hi-sab. Akan tetapi tidak berarti harus dengan rukyat atau istikmâl saja, hisab tidak boleh. Hisab tidak atau belum digunakan pada saat itu, bukan karena hisab tidak boleh digunakan. Pada saat itu, kemampuan atau keterampilan hisabnya yang belum dimili-ki. Jangankan ilmu hisab dengan proses perhitungan yang rumit, kemampuan berhitung angka saja masih sangat terbatas. Hal ini sebagai yang diakui oleh Rasulullah saw. sendiri dalam sabdanya: “Inna ummaú ummiyaú lâ naktub wa lâ naòsub”.
Lain lagi persoalannya, jika pada masa itu ilmu hisab (ilmu falaq) sudah dikuasai oleh Rasulullah bersama para sahabat, ma-ka tidak digunakannya ilmu hisab untuk penentuan waktu-waktu peribadatan menjadi satu ketetapan; penggunaan ilmu hisab men-jadi bid‘ahyang, karenanya menjadi terlarang digunakan dalam penentuan waktu-waktu peribadatan.
Atas perihal yang sama, kasus pengkodifikasian Quran dalam bentuk mushaf atau buku yang dicetak, bahkan dewasa ini dalam bentuk digital. Padahal di zaman Rasulullah saw. Quran tidak di-kodifikasikan dan beliau pun tidak juga memerintahkannya. Apakah kodifikasi Quran dalam bentuk mushaf menjadi terla-rang?
Kodifikasi Quran belum ada, tetapi para sahabat sudah dipe-rintahkan untuk membaca Quran. Memang, kegiatan membaca Quran pada saat itu, bukan melihat hurup-hurup yang tertulis dalam lembaran mushaf. Akan tetapi melafalkan ayat-ayat Quran yang sebelumnya sudah dihapal terlebih dahulu. Haruskah saat ini, ayat demi ayat dan surat demi surat dihapal terlebih dahulu, baru kemudian dibaca? Apakah sekarang tidak boleh cukup dengan membuka lembaran-lembaran mushaf lalu membacanya, tanpa hapal terlebih dahulu?
Kodifikasi Quran belum dilakukan di zaman Rasulullah saw, bukan karena Quran tidak boleh dikodifikasikan. Akan tetapi untuk itu belum dimungkinkan dan memang belum begitu diper-lukan. Untuk terpeliharanya kemurnian Quran, sekaligus ajaran Islam pada saat itu, dan memang belum diperlukan pengkodifika-sian Quran. Karena pada masa itu: 1) Rasulullah saw masih hidup yang, atas jaminan Allah apa yang telah diwahyukan kepadanya, ia tidak akan lupa[53]; 2) Proses pewahyuan masih berjalan dan Malaikat Jibril senantiasa memeriksa bacaan Rasulullah saw[54]; 3) Para sahabat banyak yang hapal Quran, konon orang Arab diknal sangat kuat hapalannya; dan 4) Kemampuan, media dan perleng-kapan untuk kodifikasi belum cukup memadai.
Sepeningal Rasulullah – lebih-lebih saat ini –, kondisi sudah berubah sedemikian rupa, ketiga hal di atas sudah tidak ada lagi dan kemampuan, media dan perlengkapan kodifikasi sudah ter-sedia lebih dari cukup. Kodifikasi Quran hampir-hampir menjadi satu keniscayaan untuk terpeliharanya kemurnian Quran dan se-kaligus ajaran Islam.
Lalu apa dasar hukumnya Quran itu dikodifikasikan, sebagai-mana pula apa dasar hukumnya hisab dalam penentuan waktu-waktu peribadatan khususnya 1 Ramadhan, 1 Syawwal dan 10 Dzulhijjah Alasan-alasan sebagaimana yang disebutkan di atas, dalam ilmu ushul fiqh disebut dengan istièlaò atau maèlaòaú al-mursalaú yang banyak dikembangkan terutama di mazhab Maliki.[55]
Berbeda dengan jumhur di atas, bagi Muhammadiyah dengan memahami hadis-hadis di atas, Jika hadis-hadis tersebut dipa-hami secara lebih utuh, ternyata yang menjadi sebab – jika dika-takan sabab al-òukmi – bukan keterlihatan hilal, tetapi keber-adaan (wujûd al-hilâl) karena potongan hadis selanjutnya, “fa in gumma atau gubiya” artinya hilal tidak dapat dilihat terhalangi atau memang belum wujud, maka jumlah hari dari bulan yang sedang berjalan (Sy‘aban atau Ramadhan) digenapkan menjadi tiga puluh, 2 hari berikut wajib berpuasa atau berbuka (hari raya) sekalipun hilal tidak dapat dilihat, tetapi sudah dipastikan hilal sudah wujud namun tidak bisa dilihat. Dengan kata lain, pada saat dilakukan istikmâl, hilal tidak terlihat, tetapi puasa atau ber-buka (hari raya) sudah wajib karena hilal sudah dipastikan sudah wujud. Jadi dengan demikian yang menjadi sebab adalah wujûd al-hilâlbukan ru’yat al-hilal.
Sejalan dengan itu pula, huruf “lam” pada kata “li ru’yatih” dalam hadis-hadis di atas, menurut Al-Ùaybi[56] dan Ibn Daqîq al-‘Id bukanlah lam li al-ta‘lîl yang menunjukkan sebab, tetapi “lam li al-ta’qît” yang menunjukkan waktu secara majaz. Sehingga pe-rintah dalam hadis tersebut berarti: berniatlah berpuasa pada saat hilal sudah terlihat atau dengan kata lain berpuasa sesudah hilal terlihat. Sebaliknya, jika lam li al-ta‘lîl maka perintah ter-sebut berarti, berpuasa sebelum hilal terlihat[57].
Terakhir, bahwa kata “ru’yaú” dalam bahasa Arab tidak harus selalu berarti “melihat secara fisik dengan mata kepala. Bahkan kata itu, lebih sering digunakan untuk “melihat bukan secara fi-sik”, seperti penglihatan dalam mimpi, atau penggunaan akal dan pengetahuan, sehingga dikenal sebutan “ahl al-ra’y” yang berarti kelompok rasionalis. Sementara untuk melihat secara fisik dengan mata kepala, dalam bahasa Arab lebih sering mengguna-kan kata naìara – yanìuru.
G. Penutup
Dengan demikian, baik rukyat maupun hisab memiliki dasar dan argumen hukum, sehingga kedudukan hukumnya pun juga sama. Hanya saja rukyat sudah digunakan semenjak zaman Rasulullah sedangkan hisab baru setelah umat Islam menguasai ilmu astronomi. Pada masa Rasulullah jangankan ilmu astro-nomi, kemampuan berhitung pun masing sangat terbatas, baik jumlah orangnya maupun pengetahuannya. Hal itu terbukti dengan pengakuan Rasulullah sendiri dalam sabdanya[58]
إنا أمة أمية لا نكتب ولا نحسب الشهر هكذا وهكذا وهكذا وعقد الإبهام في الثالثة والشهر هكذا وهكذا وهكذا يعني تمام ثلاثين
Konon lagi, masyarakat arab pada saat awal Islam sangat lemah dalam angka dan perhitungan, bilangan tertinggi yang diketahui oleh masyarat arab awwam sampai angka 7 (tujuh). Karena itu pula, ketika Quran menyebutkan 7 langit, tidak mesti berarti bahwa langit itu terdiri dari 7 tingkatan, tetapi bisa saja lebih banyak dari tujuh. Sebagaimana pula halnya bagi anak kecil yang belum bias menghitung, bilangan 2 artinya bukan satu di tambah satu.
Karena itu penggunaan hisab secara umum dalam menentu-kan waktu-waktu peribadatan (puasa, hari raya dan ibadah haji) bukan termasuk sesuatu yang mengada-ada dalam syari‘ah yang lazim disebut dengan bid‘ah, melainkan maèlaòaú al-mursalaú. Hisab tidak digunakan pada masa Rasulullah, bukan berarti tidak boleh digunakan, tetapi belum ada kemampuan untuk melaku-kannya atau tidak mungkin dilakukan.
Daftar Pustaka
Abû Bakr ‘Abdullâh ibn Muòammad ibn Abi Šaybah al-Kûfî. 1409 H. Al-Kitâb al-Muèannaf fi al-Aòâdiå wa al-Aåar, al-Riyâæ: Maktabaú al-Rušd. Taòqîq: Kamal Yusuf al-Huù.
Abû Bakr ‘Abd al-Razâq ibn Hamam al-Èan‘ânî. Al-Muèannaf, Bayrût: al-Maktab al-Islâmi, Taòqîq Òabîb al-Raòmân al-A‘ìami. Cetakan Kedua (11 Juz). Juz IV.
Aòmad ibn Òanbal Abu ‘Abdullâh al-Šaybânî. t.th. Musnad al-Imâm Aòmad ibn Òanbal, Mièr: Dâr al-Qurùubaú.
‘Ali ibn al-Ja‘d ibn ‘Ubayd, Abu al-Hasan al-Bagdâdî. 1990. Musnad Ibn al-Ja‘d. Bayrût: Muasasaú Nadir. Cetakan Perta-ma (1 Juz). Taòqîq: Amir Aòmad Haydar.
Anhar, Fahmi. 2002. “Pengantar Memahami Astronomi Rukyat: Mencari Solusi Keseragaman waktu-waktu ibadah”, Makalah disampaikan dalam Workshop Nasional Metodologi Pene-tapan Awal Bulan Qamariyah Model Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemi-kiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerjasama dengan Program Pascasarjana Magister Studi Islam UMY, di Yogyakarta tanggal 19-20 Oktober 2002.
Baker, Robert H. 1953. Astronomy, a Textbook for University and college Student, edisi ke-5, New York: D. Van Nostrand Company.
Buóârî Muhammad ibn Ismâ’il Abû ‘Abdullâh al-Ja‘fi al-, 1407 H al-Jâmi‘ al-Èaòîò al-Muótaèar, Bayrût: Dâr Ibn Kaåir, al-Yamamah. Taòqîq Muèùafa Dib al-Biga, Cet. III, Juz II.
Djambek, Saadoe’din. 1976. Hisab Awal Bulan, Jakarta: Tintamas.
Hadikusuma, Djarnawi. 1973. “Mengapa Muhammadiyah Me-makai Hisab?” dalam Suara Muhammadiyah, Nomor IV/ Februari 1973.
Òâriå ibn Abî Usamah al-. 1992. Bugyaú al-Baòiå ‘an Zawâ’id Musnad al-Òâriå. al-Madinaú al-Munawaraú: Markaz Óidmaú al-Sunnaú wa al-Siraú al-Nabawiyaú. Cetakan Pertama. (2 juz). Taòqîq: Husayn Aòmad Èâlih. Juz I.
Ibnu Salimi (et.al.), 1998. Studi Kemuhammadiyahan, Kajian Historis, Idiologi dan Organisasi, Surakarta: LSI UMS.
Mâlik ibn Anas, t.th. Muwaùùa’ al-Imâm Mâlik. Mesir: Dâr al-Iòyâ’ al-Turâå al-‘Arabi. Taòqîq: Muòammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi. Juz I.
Manawi, ‘Abd al-Rauf al-. 1356. Fayæ al-Qadîr Šarò al-Jâmi‘ al-Èagîr. Mièr: Al-Maktabaú al-Tijâriyaú al-Kubra.
Maragî, Aòmad Muèùafa al- . Tafsîr al-Maragî, Juz II.
Marsito, 1960. Kosmografi Ilmu Bintang, Jakarta: PT. Pemba-ngunan.
Mubarakfuri. Muòammad ‘Abd al-Raòmân ibn ‘Abd al-Raòîm al- t.th. Tuòfaú al-Aòwaíi bi Šarò Jâmi‘ al-Turmuíî. Bayrût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah.
Muhammad ibn ‘Ali al-Šawkânî. 1973. Nayl al-Awùâr Šarò Muntaqâ al-Aóbar, Bayrût: Dâr al-Jayl.
Muslim ibn al-Òajaj Abû al-Òasan al-Qušayri al-Naysâbûrî. t.th. Èaòîò Muslim. Bayrût: Dâr al-Iòyâ al-Turâå al-‘Arabi. Taòqîq: Fuad ‘Abd al-Bâqi. (5 Juz). Juz II.
M. Ilyas, 1984. A Modern Guide to Astronomical Calculations of Islamic Calendar, Times and Qibla, Kuala Lumpur: Berita Publishing SDN. BHD.
Oman Fathurrahman, S.W., 2002. “Hisab Muhammadiyah: Konsep, Sistem, Metode dan Aplikasinya”, Makalah disam-paikan dalam workshop Nasional Metodologi Penetapan Awal Bulan Qamariyah Model Muhammadiyah yang diselenggara-kan oleh Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerjasama dengan Pro-gram Pascasarjana Magister Studi Islam UMY, di Yogyakarta tanggal 19-20 Oktober 2002.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1974. Himpunan Putusan Tarjih, Yogyakarta, Persatuan.
Šâfi‘î. Muhammad ibn Idrîs, Abû ‘Abdullâh al-. t.th. Musnad al-Šâfi‘î. Bayrût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah.
Šâùibî. Abû Isòâq al-. t.th. Al-Muwâfaqaú fî Uèûl al-Fiqh. Bayrût: Dâr al-Ma‘rifaú. Taòqîq: ‘Abdullâh Daz. Juz III.
Sayyid Sâbiq, Fiqh al-Sunnaú, Juz I
Steenbrink, Karel A. 1986. Pesantren Madrasah Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Moderen, Jakarta: LP3ES.
Taqiy al-Dîn Abû al-Fatò ibn Daqîq al-‘Îd. t.th. Iòkâm al-Aòkâm Šarò ‘Umdaú al-Aòkâm, Bayrût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyaú.
Ùayâlisî. Sulaymân ibn Dâwud, Abu Dâwud al-Farisî, al-Baèri al-. t.th. Musnad al-Ùayâlisî, Bayrût: Dâr al-Ma‘rifaú.
Tim PP Muhammadiyah Majelis Tarjih, 1995. Jawab Agama, Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah, 1995), III, hlm 147-155. dan 1998/IV: hlm. 182-185.
Wahid, Basit. 1994. “Hisab untuk Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan” dalam Zalbawi Soejoeti dan Farid Ruskanda (Red.) Prosiding Diskusi Panel Teknologi Rukyat Awal Bulan Ramadhan dan Syawwal, Serpong: ICMI Orsat Kawasan PUSPITEK dan Sekitarnya, 1994.
-----. 1995. “Penentuan Awal Bulan Hijriyah”, dalam Suara Muhammadiyah, Nomor 17 Tahun ke-80, September 1995
Wardan, Muhammad. 1957. Urfi dan Hakiki, Jokjakarta: Siaran.
Zuhaylî, Wahbah al-. Al-Tafsîr al-Munîr fi al-‘Aqîdaú wa al-Šarî‘aú wa al-Manhaj, Juz II.
[1] Dengan membuat garis shaf baru di dalam masjid, sekitar tahun 1898-1899. Baca, Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Moderen, (Jakarta: LP3ES. 1986), hlm. 90 dst; KH. Ibnu Salimi (et.al.), Studi Kemuhammadiyahan, Kajian Historis, Idiologi dan Organisasi, (Surakarta: LSI UMS. 1998), hlm. 125-126.
[2] Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Himpunan Putusan Tarjih, (Yogyakarta, Persatuan. 1974), hlm. 170.
[3] Saadoe`ddin Djambek, Hisab Awal Bulan, (Jakarta: Tintamas. 1976). hlm. 10.
[4] Muhammad Wardan, Hisab Urfi dan Hakiki, (Jokjakarta: Siaran. 1957), hlm. 43.
[5] Lihat Djarnawi Hadikusuma, “Mengapa Muhammadiyah Memakai Hisab?” dalam Suara Muhammadiyah, Nomor IV/Februari 1973. hlm. 22. Cf. Pimpinan Pusat Muhammadiyah,Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, hlm. 291. Namun ketetapan ini sudah dikoreksi oleh Putusan Munas Tarjih tahun 2000 di Jakarta.
[6] Menurut hisab pada waktu itu posisi hilal/bulan negatif di bawah ufuk, namun ada kesaksian hilal berhasil dirukyat. Kesaksian rukyat saat itu oleh Muhammadiyah ditolak. Lihat Basit Wahid, “Hisab untuk Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan” dalam Zalbawi Soejoeti dan Farid Ruskanda (Red.) Prosiding Diskusi Panel Teknologi Rukyat Awal Bulan Ramadhan dan Syawwal, (Serpong: ICMI Orsat Kawasan PUSPITEK dan Sekitarnya, 1994), hlm. 87.
[7] Tim PP Muhammadiyah Majelis Tarjih, Tanya Jawab Agama, (Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah, 1995), III, hlm 147-155. dan 1998/IV: hlm. 182-185. Lihat Basit Wahid, “Penentuan Awal Bulan Hijriyah”, dalam Suara Muhammadiyah, Nomor 17 Tahun ke-80, September 1995: 48.
[8] Semula Muhammadiyah menetapkan awal bulan baru itu hanya dengan rukyat, setelah ilmu astronomi berkembang di Muhammadiyah yang dipelopori oleh K.H. Siraj Dahlan putera K.H. Ahmad Dahlan, hisab mulai digunakan dengan kriteria ijtimâ‘ qabla al-gurûb. Kemudian sejalan dengan perkembangan pemikiran dalam perhitungan hisab, sejak tahun 1388 H/1968 M kriteria ijtimâ‘ qabla al-gurûb ini disempurnakan dengan memperhitungkan posisi hilal di atas ufuk (wujûd al-hilâl). Dengan demikian, dalam sejarahnya memang Muhammadiyah tidak pernah menggunakan hisab dengan kriteria imkân al-ru’yaú.
[9] Wardan, Hisab Urfi, hlm. 43. Dengan bukti buku ini, sekurang-kurangnya sejak tahun 1957 Muhammadiyah sudah mengenal adanya beberapa kriteria pe-netapan awal bulan berdasarkan hisab.
[10] Saat bulan dan matahari “bertemu” pada bujur ekliptik yang sama. Jika lin-tangnya juga sama, maka akan terjadi gerhana matahari. Sejak ratusan tahun yang lalu para astronom sudah dapat menghitung ijtimâ‘ ribuan tahun ke depan dengan kesalahan kurang dari 1 (satu) menit. Ijtimâ‘ terjadi serentak dan hanya sekali dalam setiap bulannya. Berbeda dengan gerhana, Peristiwa ijtimâ‘ ini tidak bisa dilihat oleh mata kepala karena sinar matahari yang berada di belakang bulan sangat menyilaukan. Lihat Fahmi Anhar, “Pengantar Memahami Astro-nomi Rukyat: Mencari Solusi Keseragaman waktu-waktu ibadah”, hlm. 1. maka-lah disampaikan dalam Workshop Nasional Metodologi Penetapan Awal Bulan Qamariyah Model Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerjasama dengan Program Pascasarjana Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, di Yogyakarta tanggal 19-20 Oktober 2002.
[11]Dalam perkembangannya, penetapan berdasarkan ijtimâ‘ ini menjadi ijtimâ‘ sebelum tengah malam dan ijtimâ‘ sebelum fajar menyingsing.
[12]Berdasarkan fikih, rukyat harus dilakukan pada tanggal 29 sya‘ban tanpa memperhitungkan sudah ijtimâ‘ atau belum.
[13]Secara astronomis, menurut Danjon setelah berulangkali melakukan pene-litian/pengamatan, hilal tidak mungkin dapat dilihat, jika selisih sudutnya dari matahari kurang dari 7º dengan beda azimut harus 0º. (Schafer, 1991: 265). Ketetapan ini kemudian diperkuat oleh hasil penelitian Muamer Diezer di Candily Observatory, bahwa hilal baru dapat dilihat jika selisih sudut dari matahari (angular distance) 8º dengan ketinggian (irtifâ‘) minimum 5º di atas ufuk. Ketentuan Diezer ini kemudian disepakati dalam Konferensi Penyatuan Kalender Hijriyah Internasional di Istanbul Turki pada tanggal 26-27 April 1978. Lihat M. Ilyas, A Modern Guide to Astronomical Calculations of Islamic Calen-dar, Times and Qibla, (Kuala Lumpur: Berita Publishing SDN. BHD. 1984), hlm. 107. Sementara di Indonesia (Baca: Depag RI), telah ditetapkan: irtifâ‘ 2º dengan umur bulan (tenggang waktu antaraijtimâ‘ dengan terbenam matahari) 8 jam. Akan tetapi dalam kenyataanya, Depag tidak konsisten, karena sering menyata-kan hilal berhasil dirukyat, padahal ketinggiannya berdasarkan hasil hisab kurang dari 2º.
[14]Setelah terjadinya ijtimâ‘ bulan bergerak makin tinggi dan lambat laun akan menyentuh horizon bagi tempat di bumi yang sedang mengalami matahari ter-benam. Jika bulan tepat di horizon, maka dikatakan irtifa`-nya nol, semenjak inilah hilal dapat dinyatakan wujud atau positif di atas ufuk. Semakin lama semakin tinggi, dan dalam tempo 24 jam (satu hari), hilal akan naik sekitar 12º. Fahmi Anhar, “Pengantar Memahami”, hlm. 2.
[15] Wardan, Hisab Urfi, hlm. 42-43.
[16] Wahid, “Hisab untuk”, hlm. 47.
[17] Hadikusumo, “Mengapa Muhammadiyah”, hlm. 10.
[18] Jika bulan lebih dulu terbenam dari matahari, bukan hilal yang menun-jukkan awal bulan, tetapi sebaliknya bulan mati yang menunjukkan akhir bulan.
[19] Diadaptasi dari Oman Fathurrahman, S.W., “Hisab Muhammadiyah: Kon-sep, Sistem, Metode dan Aplikasinya”, makalah disampaikan dalam workshop Nasional Metodologi Penetapan Awal Bulan Qamariyah Model Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerjasama dengan Program Pascasarjana Magister Studi Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, di Yogyakarta tanggal 19-20 Oktober 2002.
[20]Posisi bulan pada ufuk hakiki pada saat terbenam matahari, harus diketahui terlebih dahulu untuk memastikan apakah matahari yang terbenam lebih dahulu daripada bulan atau sebaliknya.
[21]Lihat tabel-tabel yang dimuat dalam lampiran daftar peredaran matahari dan bulan dalam buku: Hisab ‘Urfi dan Hakiki mulai halaman 53.
[22] Ijtimâ‘ atau konjungsi bulan dan matahari didefinisikan dengan the moon is in conjunction with the sun when the two bodies nave the same celestial longi-tude. Lihat Robert H. Baker, Astronomy, a Textbook for University and college Student, edisi ke-5,(New York: D. Van Nostrand Company. 1953), hlm. 127.
[23] Marsito, Kosmografi Ilmu Bintang, (Jakarta : PT. Pembangunan. 1960), hlm. 49- 54.
[24]Huruf “Lam” dalam hadis: èûmû li ru’yatih ... dan seterusnya, maknanya bukan menunjukkan ‘illaú al-òukm (lam li ta‘lîl, karena), tetapi maknanya me-nunjukkan waktu (lamli ta’qît, pada waktu), sedangkan ‘illaú-nya dapat diketahui dengan memahami makna hadis itu secara lengkap, sampai selesai. Berdasarkan kelanjutan hadis tersebut, puasa/buka tetap wajib, sekalipun hilal tidak dapat dilihat, yaitu dengan menggenapkan jumlah bilangan bulan atau dengan perhi-tungan. Hal ini menunjukkan bahwa yang menjadi ‘illaú bukan terlihat atau tidak terlihatnya hilal, tetapi wujud atau tidak wujudnya hilal.
[25] Q.S. Yunus: 5
[26] Q.S al-Isrâ’: 12
[27] QS. Al-Raòmân [55]: 5.
[28] QS. Al-Baqarah [2]: 189.
[29] QS. Yâsîn [36]: 39-40.
[30] QS. Al-Tawbah [9]: 36.
[31] QS. Al-Baqarah [2]: 185.
[32]Lihat Aòmad Muèùafa al-Maragî, Tafsîr al-Maragî, Juz II, hlm 72; Sayyid Sâbiq, Fiqh al-Sunnaú, Juz I, hlm. 435, Wahbah al-Zuhaylî, Al-Tafsîr al-Munîr fi al-‘Aqîdaú wa al-Syarî‘aú wa al-Manhaj, Juz II, hlm. 142.
[33] Mâlik ibn Anas, Muwaùùa’ al-Imâm Mâlik. (Mesir: Dâr al-Iòyâ’ al-Turâå al-‘Arabi. t.th). (2 Juz). Taòqîq: Muòammad Fu’ad ‘Abd al-Baqi. Juz I. hlm. 286-287.
[34] Abû Bakr ‘Abd al-Razâq ibn Hamam al-Èan‘ânî. Al-Muèannaf, (Bayrût: al-Maktab al-Islâmi, 1403), Taòqîq Òabîb al-Raòmân al-A‘ìami. Cetakan Kedua (11 Juz). Juz IV. hlm. 156.
[35] ‘Ali ibn al-Ja‘d ibn ‘Ubayd, Abu al-Hasan al-Bagdâdî. Musnad Ibn al-Ja‘d. (Bayrût: Muasasaú Nadir. 1990). Cetakan Pertama (1 Juz). Taòqîq: Amir Aòmad Haydar. hlm. 174.
[36] Muhammad ibn Idrîs, Abû ‘Abdullâh al-Šâfi‘î. Musnad al-Šâfi‘î. (Bayrût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah. t.th.) (1 Juz). hlm. 187.
[37] Sulaymân ibn Dâwud, Abu Dâwud al-Farisî, al-Baèri al-Ùayâlisî. Musnad al-Ùayâlisî, (Bayrût: Dâr al-Ma‘rifaú. t.th.), (1 juz). hlm. 118.
[38]Ibid. hlm. 249.
[39]Ibid. hlm. 304. dan 325.
[40] Abû Bakr ‘Abdullâh ibn Muòammad ibn Abi Syaybah al-Kûfî. Al-Kitâb al-Muèannaf fi al-Aòâdiå wa al-Aåar, (al-Riyâæ: Maktabaú al-Rušd. 1409). Taòqîq: Kamal Yusuf al-Huù, (7 Juz). Juz II. hlm. 284.
[41] Aòmad ibn Òanbal Abu ‘Abdullâh al-Šaybânî. Musnad al-Imâm Aòmad ibn Òanbal, (Mièr: Dâr al-Qurùubaú, t.th.) (6 Juz). Juz I. hlm. 226.
[42] Ibid. Juz I. hlm. 258.
[43] Ibid. Juz II. hlm. 422.
[44] Ibid. Juz II. hlm. 430.
[45] Ibid. Juz II. hlm. 438.
[46] Ibid. Juz II. hlm. 454.
[47] Ibid. Juz II. hlm. 456.
[48] Ibid. Juz II. hlm. 497.
[49] Al-Òâriå ibn Abî Usamah. Bugyaú al-Baòiå ‘an Zawâ’id Musnad al-Òâriå. (al-Madinaú al-Munawaraú: Markaz Óidmaú al-Sunnaú wa al-Siraú al-Nabawiyaú). 1992. Cetakan Pertama. (2 juz). Taòqîq: Husayn Ahmad Shalih. Juz I. hlm. 409.
[50] Muhammad ibn Ismâ’il Abû ‘Abdullâh al-Buóârî al-Ja‘fi, al-Jâmi‘ al-Èaòîò al-Muótaèar, (Bayrût: Dâr Ibn Kaåir, al-Yamamah. 1407), Taòqîq Muèùafa Dib al-Bigha, cet. III, Juz II. hlm. 674.
[51]Muslim ibn al-Òajaj Abû al-Òasan al-Qušayri al-Naysâbûrî. Èaòîò Muslim (Bayrût: Dâr al-Iòyâ al-Turâå al-‘Arabi. t.th.) Taòqîq: Fuad ‘Abd al-Bâqi. (5 Juz). Juz II. hlm. 762.
[52] Muhammad ‘Abd al-Raòmân ibn ‘Abd al-Raòîm al-Mubarakfuri. Tuòfaú al-Aòwaíi bi Šarò Jâmi‘ al-Turmuíî. (Bayrût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah. t.th.) (10 Juz).
[53] Baca: Q.S. al-A‘lâ [87]: 6-7.
[54] Disebutkan dalam sebuah riwayat, pengecekkan bacan Quran Nabi dila-kukan oleh Malaikat Jibril setiap bulan Ramadhan.
[55] Untuk lebih jauh, baca: Abû Isòâq al-Šâùibî (790 H). Al-Muwâfaqaú fî Uèûl al-Fiqh. (Bayrût: Dâr al-Ma‘rifaú. t.th.) (4 Juz). Taòqîq: ‘Abdullâh Daz. Juz III. hlm. 74.
[56] ‘Abd al-Rauf al-Manawi. Fayæ al-Qadîr Šarò al-Jâmi‘ al-Èagîr. (Mièr: Al-Maktabaú al-Tijâriyaú al-Kubra. 1356). Cetakan Pertama. (6 Juz). Juz IV. hlm. 214.
[57]Lihat Taqiy al-Dîn Abû al-Fatò ibn Daqîq al-‘Îd, Iòkâm al-Aòkâm Šarò ‘Umdaú al-Aòkâm, (Bayrût: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyaú, t.th.) Juz ii, hlm. 205-207; Muhammad ibn ‘Ali al-Šawkânî,Nayl al-Awùâr Šarò Muntaqâ al-Aóbar, (Bayrût: Dâr al-Jayl. 1973), Juz IV, hlm. 264, 351. “Lam li ta’qît” ini juga sebagaimana pada perintah shalat “Aqîm al-èalâú li dulûk al-šams” uraian dan penjelaannya lihat: Tafsîr al-Bayæawî, Juz III/hlm. 80; Juz III/hlm. 462; juz V/hlm 348. Tafsîr Abî Su‘ûd, Juz V/hlm: 189; Tafsîr Rûò al-Ma‘ânî, Juz IIi/hlm 131; Juz XV/hlm 132.
[58] Muslim ibn al-Òajaj al-Naysâbûrî, Èaòîò Muslim, Juz II, hlm. 761.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar